NEWS UPDATE :  

Berita

Hujan Seharian Warnai Universitas Day At SMAN 1 Pasawahan, Sembari Berbagi Cerita Kampus

Pagi itu, hujan turun sejak awal hari di SMAN 1 Pasawahan. Hingga sore, rintik tak kunjung reda, membuat suasana sekolah terasa lebih tenang dari biasanya. Meski cuaca kurang bersahabat, kegiatan Universitas Day tetap berlangsung. Di balik langit yang mendung, para siswa justru mendapatkan kesempatan untuk membuka wawasan tentang masa depan pendidikan mereka.

Universitas Day menghadirkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk melakukan sosialisasi langsung kepada siswa. Beberapa universitas ternama turut hadir, di antaranya Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Padjadjaran (UNPAD), UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Telkom University, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY), serta Universitas Terbuka (UT) dan masih banyak beberapa universitas yang hadir. Kehadiran beragam perguruan tinggi ini memberikan gambaran luas kepada siswa mengenai pilihan pendidikan lanjutan, baik di dalam maupun luar daerah.

Dibeberapa ruang kelas, sesi sosialisasi berlangsung secara interaktif. Para mahasiswa tidak hanya memaparkan informasi seputar jurusan dan jalur masuk perguruan tinggi, tetapi juga membagikan pengalaman nyata selama menjalani perkuliahan. Meski suara hujan sesekali terdengar dari luar ruangan, antusiasme siswa tetap terjaga hingga kegiatan berakhir.

Salah satu mahasiswa yang hadir adalah Tria Ramadanti, alumni SMAN 1 Pasawahan yang kini menempuh pendidikan di Program Studi Mekatronika dan Kecerdasan Buatan (MKB), UPI Kampus Purwakarta. Dalam sesi wawancara, Tria menyampaikan pandangannya secara jujur dan realistis mengenai pilihan berkuliah, khususnya terkait anggapan bahwa kuliah harus selalu dilakukan di luar kota.

Menurut Tria, tidak sedikit siswa yang memandang kuliah di luar daerah sebagai simbol kebebasan dan pengalaman yang terlihat “wow”. Padahal, berkuliah di daerah sendiri juga memiliki banyak kelebihan. Mahasiswa masih dapat merasakan dukungan keluarga, tetap dekat dengan orang tua, serta berada dilingkungan yang sudah dikenal. Hal tersebut, menurutnya, justru dapat membantu mahasiswa beradaptasi dengan dunia perkuliahan.

Tria juga menegaskan bahwa kuliah bukan hanya tentang mengikuti perkuliahan dikelas. Ia menjelaskan adanya Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sebagai mahasiswa, seseorang dituntut untuk mampu memberi dampak serta belajar menyelesaikan berbagai permasalahan, tidak hanya dalam lingkup pertemanan, tetapi juga persoalan sosial dilingkungan sekitar.

Dari segi pembelajaran, Tria mengaku cukup terkejut dengan ritme perkuliahan. Dalam satu pertemuan, materi yang dibahas bisa setara dengan dua hingga tiga bab pelajaran di sekolah. Hal ini menuntut mahasiswa untuk lebih mandiri, aktif membaca, dan mampu mengelola waktu dengan baik

Ia juga membandingkan pengalaman organisasi di SMA dengan dunia kemahasiswaan. Menurutnya, organisasi di tingkat mahasiswa jauh lebih terstruktur dan memiliki tanggung jawab yang lebih besar, sehingga aktivitas yang dijalani menjadi lebih padat dan menantang. Oleh karena itu, kesiapan mental dan kedisiplinan menjadi hal penting sejak awal memasuki perkuliahan.

Menutup pesannya, Tria mengingatkan pentingnya memilih lingkungan pergaulan yang positif. Ia berpesan agar mahasiswa mampu memilah teman yang sejalan dengan tujuan dan tidak membawa pada hal-hal negatif, seperti bolos kuliah atau pergaulan bebas.

Selain Tria Ramadanti, beberapa mahasiswa dari perguruan tinggi lain juga turut berbagi pengalaman mereka. Caira, mahasiswa Teknologi Industri Pertanian UGM angkatan 2025, serta Bilqis, mahasiswa Manajemen UPN Veteran Yogyakarta, menyampaikan bahwa berkuliah di luar daerah tidak selalu seberat yang dibayangkan. Keduanya yang sama-sama berasal dari Purwakarta mengaku mampu beradaptasi dengan cepat dan justru merasa nyaman menjalani kehidupan perantauan. Bahkan, saat masa liburan tiba, mereka mengaku merindukan suasana Yogyakarta yang telah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Dalam pemaparannya, Caira juga menyinggung bahwa UGM sebagai salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia tetap menuntut kesiapan mental yang kuat, termasuk dalam mengikuti rangkaian orientasi dan ritme akademik yang padat. Sementara itu, Bilqis menyoroti keunggulan UPN Veteran Yogyakarta yang memiliki program studi strategis seperti pertambangan dan perminyakan, serta peluang kolaborasi dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ternama. Keduanya sepakat bahwa selain prestasi akademik, motivasi dan kesiapan diri menjadi kunci utama dalam menjalani dunia perkuliahan.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Rantaka, mahasiswa Vokasi Universitas Diponegoro semester dua. Ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar selama kuliah adalah mengatur pola hidup secara mandiri, mulai dari mengurus kebutuhan sehari-hari hingga mengelola keuangan. Menurutnya, fenomena mengikuti tren atau fear of missing out (FOMO) justru dapat menjadi hambatan jika tidak disikapi dengan bijak. Ia berpesan agar siswa tidak meremehkan potensi diri dan tidak mematok cita-cita terlalu rendah.

Sementara itu, Iksan, mahasiswa Politeknik Negeri Subang Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak, menekankan pentingnya inisiatif dan kedisiplinan selama kuliah. Ia menilai bahwa kebebasan tanpa pengawasan orang tua menuntut mahasiswa untuk lebih bertanggung jawab terhadap waktu dan proses belajar. Menurutnya, membangun relasi, aktif berorganisasi, serta berani memulai perkenalan sejak awal menjadi bekal penting untuk menghadapi dinamika kehidupan kampus.

Melalui kegiatan Universitas Day ini, siswa SMAN 1 Pasawahan diharapkan tidak hanya mengenal nama-nama perguruan tinggi, tetapi juga memahami realitas kehidupan kampus secara lebih utuh. Di tengah hujan yang menemani sepanjang hari, kegiatan ini menjadi momen reflektif bagi siswa untuk mulai mempertimbangkan pilihan pendidikan secara matang dan realistis.

Penulis             : Jazzy Faeyza Bastiha Padwa & Kayana Tecku Nancangka

Editor              : Dede Jamilah & Dewi Silvia Sari

Pembina           : R.Wiriakusumah, S.Sos.,S.Kom. (Abah Hanhan)