Dina Maryana
Perjalanan Menghidupkan Kembali Mimpi yang Tersimpan
Safira adalah siswi SMP yang sangat menyukai alat-alat Teknologi dan IT. Bahkan, dia bercita-cita ingin menjadi Seorang Ilmuwan yang ahli dalam teknologi dan IT, sehingga dia bisa membantu orang lain dengan alat ciptaannya. Akhirnya, dia menghabiskan waktunya untuk membuat Coding, menciptakan alat-alat IT yang canggih. Dan dia juga selalu memenangkan lomba yang dia ikuti. Namun, saat dia sedang menguji salah satu alat ciptaannya, tiba-tiba alat itu meledak. Safira menjerit, "Aaah...", lalu Safira terpental. Orangtuanya yang mendengar suara ledakan itu langsung menghampiri Safira dan menemukan Safira dalam keadaan tidak sadarkan diri. Orangtua Safira panik dan segera membawanya ke Rumah Sakit.
Setibanya di Rumah Sakit, Safira diperiksa oleh Dokter, lalu Orangtuanya pun menanyakan keadaan Safira kepada Dokter. "Dok, bagaimana keadaan anak saya? Apakah dia baik-baik saja?" Dokter menjawab dengan wajah yang sedih, "Maaf, Pak, Bu, anak anda mengalami koma." Ibunya Safira mendengar kabar tersebut, wajahnya langsung pucat dan tubuhnya lemas. "Apakah anak saya bisa sembuh dan sadar?" tanya Ayah Safira sambil menenangkan ibunya Safira. Dokter menjawab, "Jangan khawatir, Pak, Bu. Kami pasti akan melakukan yang terbaik supaya anak Bapak dan Ibu bisa sembuh dan sadar kembali."
Satu tahun kemudian, Safira akhirnya sadarkan diri. "Dimana ini?" tanya Safira dengan suara lemas. Orang tuanya melihat Safira sadar, langsung menghampiri Safira dengan senang dan menangis melihat Safira, lalu mengatakan, "Safira... kamu sudah sadar, syukurlah akhirnya kamu sadar." "Ayah, Ibu, apa yang terjadi? Aku dimana?" tanya Safira. Ibunya menjawab, "Nak, kamu tidak ingat apa-apa? Tentang ledakan itu?" Safira mencoba mengingat, "Ledakan?" Ibu Safira menarik napas, lalu mencoba menjelaskan, "Satu tahun lalu, sebelum kamu koma, Ibu dan Ayahmu mendengar suara ledakan di Kamarmu. Lalu, saat Ayah dan Ibu menghampiri kamu, kamu... tidak sadarkan diri. Akhirnya, Ayah dan Ibu membawamu ke Rumah Sakit, lalu Dokter mengatakan kamu dalam keadaan koma. Dan sekarang, akhirnya kamu sadar."
Safira mencoba mengingat lagi kembali apa yang terjadi, dan akhirnya dia ingat bahwa dia sedang membuat satu alat, tapi saat diuji coba, alat itu tiba-tiba meledak. Safira termenung, karena dia masih tidak percaya bahwa dia mengalami koma selama satu tahun. Satu bulan kemudian, akhirnya Safira diizinkan pulang ke Rumah. Setibanya di Rumah, Safira ingin masuk kamar untuk beristirahat. Namun, saat membuka kamar, dia melihat banyak alat-alat IT ciptaannya. Saat Safira melihat alat tersebut, Safira langsung ingat kecelakaan yang dialami Safira saat mencoba alat ciptaannya. "Aaaah... tidak... jangan!!" Ibunya mendengar jeritan Safira, lalu menghampiri Safira. "Safira.. Kamu kenapa, Nak?" Safira ketakutan melihat alat-alat tersebut.
"Ibu... Buang alat-alat itu, aku… aku takut, Buu!" jawab Safira dengan penuh ketakutan. Akhirnya, Ibunya membuang alat-alat tersebut ke dalam gudang. Setelah kejadian itu, Safira jadi takut dengan alat-alat yang berhubungan dengan Teknologi dan IT. Dia meninggalkan semua yang pernah dia dapatkan saat dia menyukai Teknologi dan IT. Satu tahun kemudian, Safira memasuki SMA. "Akhirnya aku sudah masuk SMA," ucap Safira dalam hati.
Saat memasuki kelas, Safira diajak kenalan oleh seseorang. "Halo, namaku Lulu. Mau gak jadi temanku?" tanya Lulu. "Halo, Lulu. Namaku Safira. Aku mau kok jadi temanmu." "Safira," ucap Lulu dalam hati. "Ohhh, jadi kamu Peraih juara satu bidang Teknologi dan IT tiga tahun lalu?" Satu kelas mendengar itu, terkejut, lalu langsung menatap Safira. Safira mendengar Lulu berkata seperti itu, langsung ingat kecelakaan yang menimpanya. "ITU MASA LALU, GAK USAH DIUNGKIT-UNGKIT LAGI," jawab Safira dengan emosi. Lulu mendengar ucapan itu, kaget. "Maaf, aku tadi gak sengaja," ucap Safira. "Enggak papa kok," jawab Lulu.
Istirahat pun tiba. "Safira, kamu mau kemana?" tanya Lulu. "Mau ke kantin," jawab Safira. Safira pergi. Namun, saat diperjalanan menuju kantin, banyak orang yang memperhatikan Safira sambil membisikan sesuatu. Safira menyadari hal itu, langsung kembali ke kelas. "Lho, Safira, katanya mau ke kantin?" tanya Lulu. "Gak jadi," jawab Safira sambil senyum. Bel berbunyi menandakan waktu pulang. "Safira, pulang bareng yuk," ajak Lulu. "Ayok," jawab Safira. Saat diperjalanan pulang, tiba-tiba ada yang memanggil Safira. "Safira, tunggu sebentar." "Maaf, kamu siapa dan ada keperluan apa dengan saya?" tanya Safira. "Halo, namaku Nara. Aku dari kelas 11, sekaligus Ketua Ekskul IT. Namamu Safira kan? Denger-denger kamu juara satu di bidang Teknologi dan IT tiga tahun lalu. Apa kamu mau bergabung dengan ekskul kami untuk melanjutkan bakatmu?" tanya Nara sambil berharap.
Safira bingung dan teringat kejadian dulu yang menimpanya. "Maaf, Kak, aku gak bisa bergabung ke dalam ekskul Kakak," jawab Safira. "Apa boleh tahu alasannya kenapa?" tanya Nara. "Maaf, Kak, aku gak bisa kasih tahu," jawab Safira sambil senyum. "Yah, yaudah gak papa. Tapi nanti kalau tertarik, temui aku yah," jawab Nara. "Iya, Kak," jawab Safira. "Safira, kenapa kamu tolak ajakan Kak Nara?" tanya Lulu. "Aah, aku ingin mencoba hal baru," jawab Safira.
"Assalamualaikum," ucap Safira. "Waalaikumsalam. Kamu udah pulang. Mau makan gak?" jawab Ibu. "Nanti aja, Bu," jawab Safira. Safira pergi ke kamar, lalu berbaring di sofa dan mengingat apa yang dikatakan oleh Nara. Sambil melihat berita terbaru bahwa akan terjadi gempa di daerah sekolahnya menggunakan handphone, Safira tiba-tiba terbangun dan buru-buru keluar. "IBU!!" "Ada apa, Nak, teriak-teriak begitu?" tanya Ibu. "Bu... alat-alat aku, apa Ibu udah buang semua?" tanya Safira. "Ibu simpan di gudang," jawab Ibu. Safira langsung berlari ke gudang. Setibanya di gudang, Safira takut dan gemetar. Akhirnya, Safira memberanikan diri untuk membuka pintu. Saat dibuka, Safira melihat alat-alat ciptaannya dan mengingat saat dia membuatnya dengan bahagia. Safira mengambil salah satu alatnya. Alat yang diambil Safira adalah alat untuk menolong seseorang yang terjebak di dalam ruangan ketika Gempa Bumi, yang belum selesai Safira buat. Safira melihat alat itu, langsung teringat berita yang dia lihat barusan.
Safira terdiam sesaat sembari memegang alat tersebut, lalu Safira berpikir, "Sebenarnya apa tujuan dan cita-citaku?" Safira mulai berdiri dan berjalan sembari melihat alat-alatnya, lalu menemukan sebuah buku diary miliknya saat SMP. Safira membuka buku tersebut dan membacanya. Di buku tersebut tertulis tujuan dan cita-citanya saat SMP, yaitu ingin menjadi Seorang Ilmuwan yang ahli dalam teknologi dan IT, dan alat-alat ciptaannya bisa menolong banyak orang. Safira terdiam. Tiba-tiba, Safira menutup buku itu dan berpikir, "Apa aku akan melanjutkan tujuan dan cita-citaku saat SMP? Tapi, aku takut kecelakaan itu terjadi lagi. Apa aku akan terus terjebak dalam traumaku?" "AKU TIDAK BOLEH TERUS-MENERUS SEPERTI INI, AKU HARUS BERUBAH DAN MELANJUTKAN CITA-CITAKU, AKU HARUS BERANI UNTUK MELAWAN TRAUMAKU," teriak Safira. Dan akhirnya, setelah berpikir lama, Safira memutuskan untuk melanjutkan tujuan dan cita-citanya. Safira melanjutkan untuk membuat alat-alat teknologinya.
Safira mengerjakan alat-alat itu selama semalaman. "AKHIRNYA SELESAI," teriak Safira dengan bahagia. Keesokan harinya, Safira berangkat ke sekolah dan membawa alat tersebut. Dia ingin memperlihatkannya pada teman-teman kelas dan pada Kak Nara, lalu memutuskan untuk ikut ekskul IT. Setibanya di sekolah, Safira masuk ke dalam kelas. Tiba-tiba terjadi guncangan, bel darurat berbunyi, "KRIIING," semua panik dan ketakutan. "SEMUANYA AYO KELUAR, DISINI BERBAHAYA," teriak Safira. "Tunggu sebentar," Safira teringat dengan alat ciptaannya dan langsung mengeluarkan alatnya. "AYO TEMAN-TEMAN GUNAKAN ALAT INI, ALAT INI BISA MEMBANTU KITA KELUAR DENGAN AMAN," teriak Safira. Teman-temannya menggunakan alatnya dan akhirnya bisa keluar dengan aman. Gempa berhenti, dan semua selamat, tidak ada korban satupun.
"SAFIRA, KAMU MENYELAMATKAN KAMI, TERIMAKASIH SAFIRA, KALAU GAK ADA KAMU KAMI TIDAK TAHU BAGAIMANA NASIB KAMI," teriak teman-teman sekelasnya. "Alhamdulillah, semuanya bisa keluar dengan aman," jawab Safira. Setelah kejadian itu, Safira memutuskan untuk benar-benar melanjutkan untuk mengejar cita-citanya, dengan mengikuti ekskul IT, dan ikut dalam lomba-lomba bidang Teknologi dan IT yang selalu meraih penghargaan. Dua tahun berlalu, akhirnya Safira mencapai tujuan dan cita-citanya. Lalu, Safira terdiam sejenak sembari mengingat hal-hal yang dia lalui selama ini untuk mencapai tujuan dan cita-citanya. "Ternyata dulu aku punya trauma yang membuatku terhenti sepenuhnya dan meninggalkan apa yang aku mimpikan. Namun, aku memutuskan untuk memberanikan diri dan melangkah maju dengan keyakinan bahwa aku bisa melewati ujian hidup ini. Dan akhirnya, aku berhasil melewati ujian tersebut dan mencapai tujuan dan cita-cita yang telah lama aku simpan."
Karya: Dina Maryana
SMAN 1 Pasawahan