NEWS UPDATE :  

Karya Dina Maryana

Karya Dina Maryana

Halo semuanya! 👋

Ada kabar membanggakan untuk kita semua! 🎉

Dengan penuh sukacita, kami mengucapkan selamat yang luar biasa kepada Dina Maryana. Atas keberhasilan meraih Juara 1 Lomba Cerpen. Tidak hanya itu, prestasi gemilang ini juga mengantarkanmu untuk menjadi perwakilan tingkat Provinsi. Semoga sukses selalu menyertai langkahmu! 💪✨

 

Yuk, kita simak karya Cerpen Dina Maryana di bawah ini!

 

Suara yang Hampir Terlupakan

Di kaki gunung, Desa Harmoni, berdiri satu Rumah Tua menghadap sawah yang hijau. Tinggallah Kakek Suwiryo, yang dulu dikenal sebagai pemain suling Sunda terkenal di desa tersebut. Kini usianya menginjak 70 tahun. Tangannya dulu yang gesit saat memainkan suling, kini gemetar saat memegang suling, tetapi tatapannya selalu bersinar setiap kali melihat suling.

Suling itu dibuat oleh ayahnya dengan sepenuh hati, berharap dan percaya bahwa, kelak anaknya akan meneruskan tradisi leluhurnya, agar salah satu budaya ini tetap hidup di masa depan. Namun ketika melihat suasana desa saat ini, semuanya telah berubah. Anak-anak zaman sekarang lebih suka budaya asing dan melupakan budayanya sendiri, salah satunya cucu kakek Suwiryo bernama Rian. Melihat sang cucu, Kakek Suwiryo sangat sedih karena dia tidak tertarik dengan budayanya sendiri.

Keesokan harinya, Kakek Suwiryo sedang mengelap Suling buatan ayahnya yang diberikan kepadanya, Rian yang melihat kakeknya yang sedang mengelap suling itu bertanya, "Kakek, kenapa kamu sangat menyukai bambu tua kecil itu?" "Ini bukan sekedar bambu tua kecil cucuku, ini adalah salah satu alat musik yang diturunkan secara turun-temurun oleh leluhur  kita, alat musik ini membuat orang yang mendengarnya  merasa tenang dan nyaman" jawab  kakek dengan lemah lembut. "Emangnya bambu tua kecil itu beneran bisa membuat orang yang mendengarkannya tenang dan nyaman?" tanya Rian dengan rasa penasarannya.

Kakek tersenyum, "Kamu tidak percaya sama kakek, Cu? Kakek akan membuktikannya sekarang." Kakek Suwiryo memainkan sulingnya. Suara sulingnya yang merdu dan indah membuat Rian merasa kagum dan nyaman mendengarnya. "Sekarang kamu percaya?" tanya kakek. "Iya sekarang aku percaya kakek, ucapan kakek benar sekali, aku yang mendengarnya juga ikut merasakannya," jawab Rian. "Tapi kakek, kenapa aku tidak pernah melihat orang memainkan alat musik itu, padahal suaranya sangat merdu dan menenangkan?" tanya Rian dengan penasaran. "Itu karena anak-anak zaman sekarang lebih suka budaya asing," jawab kakek dengan sedih."Cucuku, kamu tahu kenapa kakek sangat menyayangi dan merawat suling ini?" tanya kakek dengan lembut. "Aku gak tahu kek" jawab Rian, "Karena ini buatan ayah kakek yaitu Kakek Buyutmu, dia memberikan ini karena berharap dan percaya kepada kakek, akan meneruskan salah satu budaya ini di masa depan, tapi sepertinya kakek tidak bisa memenuhi harapannya" jawab kakek dengan rasa sedih.

Keesokan harinya Rian pergi bermain dengan teman-temannya, namun saat tengah asyik mengobrol dengan temannya, Rian teringat kakeknya yang sedang bersedih, "Rian kenapa kamu melamun terus dari tadi?" tanya Ardi "Aku teringat kakekku yang sedang bersedih" jawab Rian dengan perasaan sedih, "Kakek kamu kenapa bersedih? " tanya Ardi "Kamu tahu kan kakekku dulu adalah pemain suling sunda terkenal di Desa kita, sekarang dia sudah tua tapi, dia tidak bisa mewujudkan harapan Kakek Buyut yang dipercayakan kepadanya" jawab Rian. "Emangnya apa harapan yang dipercayakan Kakek Buyutmu kepada kakekmu?" tanya Ardi dengan rasa penasaran, "Harapannya yaitu kakek bisa meneruskan salah satu budaya ini supaya tetap hidup di masa depan".

"Oh begitu" jawab Ardi, "Kalian punya ide gak bagaimana caranya supaya kakek tidak sedih lagi?" tanya Rian bingung, "Begini saja! wujudkan harapan Kakek Buyutmu yang dipercayakan pada kakekmu itu" teriak Ardi. "Wujudkan bagaimana?" tanya Rian penasaran, "Yaampun Rian, kamu ini bagaimana sih, kan tadi kamu cerita harapan Kakek Buyutmu yang dipercayakan kepada kakekmu, tapi kakekmu tidak bisa mewujudkan harapannya, nah tinggal wujudkan saja sama kamu" jawab Ardi. "Tapi kan harus punya dulu alat musiknya, harus bisa cara mainnya dan harus ramai yang mau belajar kalau sendiri kurang meriah" jawab Rian.

"Kan ada kita, kita bisa mencari orang yang ahli di bidang itu untuk mengajari kita, kalau kurang orang kita bisa mengajak yang lain iya kan teman-teman? " sahut Ardi, "Iya benar apa yang dikatakan Ardi" jawab teman-temannya, "Kalian yakin mau membantuku?" tanya Rian, "Tentu saja kita kan teman, sesama teman harus saling membantu" ucap teman-temannya. "Teman-teman terimakasih sudah mau membantuku" jawab Rian dengan suara bergetar, "Sama-sama Rian" jawab teman-temannya. Setelah perbincangan itu, mereka memutuskan untuk melakukan apa yang telah mereka rencanakan, mereka mencari suling, pelatih dan teman-temanya yang lain. "Alat musik sudah ada, anggota sudah ada, tinggal pelatihnya, kita sudah mencari kemana-mana sekarang kita harus cari dimana lagi Rian?" tanya Ardi.

"Aku akan mencari ke Desa lain" jawab Rian, setelah sampai di Desa itu, Rian langsung pergi ke Rumah Kepala Desa. "Permisi" ucap Rian dengan sopan, "Iya ada apa ?" Jawab Kepala Desa. "Maaf Pak saya Rian mau tanya, apakah di Desa ini ada orang yang ahli memainkan suling?" tanya Rian dengan sopan. "Ada namanya Pak Karto" jawab Kepala Desa, "Kalau boleh tahu rumah Pak Karto dimana Pak?" tanya Rian dengan sopan, "Di depan sawah, rumahnya warna hijau" jawab Kepala Desa. "Terimakasih Pak" jawab Rian dengan sopan, setelah bertanya kepada Kepala Desa, Rian pergi ke rumah Pak Karto. "Permisi" ucap Rian, "Siapa? Ada keperluan apa?" tanya Pak Karto. "Maaf Pak mengganggu, saya Rian, dari Desa Harmoni, apa benar ini Pak Karto?" tanya Rian dengan sopan. "Iya saya Pak Karto" jawab Pak Karto, "Ada keperluan apa dengan saya?" tanya Pak Karto, "Maaf Pak saya mengganggu Bapak, saya dengar dari Kepala Desa, bapak itu ahli dalam memainkan suling, apakah Bapak mau mengajarkan saya dan teman-teman saya cara memainkannya?" tanya Rian dengan sopan dan penuh harapan.

Mendengar ucapan Rian, Pak Karto tertegun sejenak lalu tersenyum  bahagia. "Waah, jarang sekali anak muda ingin belajar musik tradisional di zaman ini, tentu saya mau mengajarkan" jawab Pak Karto, "Akhirnya masalah pelatih sudah terselesaikan" ucap Rian dalam hati, "Apakah saya boleh bertanya padamu Rian?" tanya Pak Karto, "Boleh pak, Bapak mau tanya apa?" jawab Rian. "Kenapa Rian ingin belajar cara memainkan suling?" tanya Pak Karto dengan rasa penasaran, "Sebenarnya saya ingin membuat pertunjukan Pak" jawab Rian, "Begitu rupanya" jawab Pak Karto.

Keesokan harinya, mereka pergi ke rumah Pak Karto. "Akhirnya hari kita berlatih sudah tiba, aku sudah tidak sabar" ucap Ardi. Rian hanya tersenyum. "Permisi Pak Karto, ini saya Rian," ucap Rian. "Oh, rupanya kalian sudah datang, ayo kita ke tempat latihan langsung" jawab Pak Karto. Setelah itu mereka berlatih bersama Pak Karto. Pak Karto mengajarkan fungsi lubang-lubang pada suling, bagaimana cara memegang dan memainkan suling. Mereka setiap hari datang ke rumah Pak Karto, berlatih dari pagi hingga sore. Enam bulan berlalu, mereka berlatih bersama Pak Karto. "Ayo kita berlatih lagi!" teriak Ardi. Mendengar mereka memainkan suling Pak Karto menangis terharu. "Pak? Bapak kenapa?" tanya Rian. "Saya bangga sama kalian, kalian sudah berusaha keras selama enam bulan ini. Kalian adalah anak-anak hebat yang masih memiliki minat memainkan suling. Sekarang kalian sudah mahir memainkan suling," ucap Pak Karto.

"Rian, sebelumnya kamu pernah bercerita, bahwa alasan kalian ingin belajar cara memainkan suling kalian ingin membuat sebuah pertunjukan, pertunjukan apa memangnya?" tanya Pak Karto, Rian pun menceritakan pertunjukan yang ingin ditampilkan oleh mereka. "Ternyata begitu, pasti kakekmu sangat senang dengan hadiahmu" jawab Pak Karto, "Pak Karto? Apakah kita sudah mahir memainkan sulingnya?" tanya Ardi  penuh harap dan wajah tegang, "Kalian sudah mahir memainkannya, kalian anak-anak yang hebat, belajar memainkan suling baru enam bulan sudah mahir" jawab Pak Karto dengan senyum bangga. "Hore! Akhirnya perjuangan kita selama enam bulan berakhir dengan memuaskan" teriak Ardi dengan penuh suka cita, Pak Karto tersenyum melihat Ardi yang sedang teriak dengan penuh semangat.

"Kalian anak-anak penerus Bangsa dan Negara yang hebat, lanjutkanlah perjalanan kalian, teruslah berjuang untuk menggapai cita-cita kalian, untuk mengharumkan dan membanggakan Bangsa dan Negara, walaupun banyak budaya asing yang masuk ke Negara kita, kalian tidak boleh lupa asal-usul kalian, budaya kalian, adat dan tradisi kalian, serta keluarga dan teman-teman kalian. Kembangkanlah, sebarkanlah budaya kita kepada keluarga, teman-teman serta negara dan seluruh dunia, agar mereka tahu seperti apa budaya kita" ucap Pak Karto, "Iya Pak, kami pasti akan melakukan apa yang Pak Karto katakan" jawab mereka.

Keesokan harinya Rian menemui Kakek Suwiryo, "Kakek ayo ikut aku sebentar" ajak Rian, "Kemana Cu?" tanya kakek dengan kebingungan, "Sudah kakek ikut saja nanti kakek juga tahu" jawab Rian sambil tersenyum. Rian membawa kakeknya ke lapangan tempat panggung seni berdiri, "Kenapa kamu bawa kakek kesini Cu? Kenapa disini ramai sekali?" tanya Kakek Suwiryo dengan wajah bingung, "Sudah kakek duduk saja disini bersama yang lain dan nikmatilah" jawab Rian dengan lembut. Tiba-tiba lampu panggung menyala, Rian, Ardi dan teman-temannya berdiri di panggung sembari memegang suling, "Halo semuanya! terimakasih sudah mau datang kesini, nikmatilah pertunjukan kami!" teriak Ardi dengan penuh semangat.

Mereka pun mulai memainkan sulingnya, suara sulingnya sangat merdu, membuat siapapun yang mendengarkannya merasa tenang dan nyaman sekali, para warga mendengarnya pun terkejut dan merasakan ketenangan dan kenyamanan itu, bahkan mereka mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momen indah tersebut dan mengunggahnya ke media sosial. Kakek Suwiryo yang mendengar itu meneteskan air mata sambil tersenyum, para warga bertepuk tangan dan bersorak "Wah, bagus sekali pertunjukan kalian! kalian hebat!" teriak para warga. "Terimakasih semuanya, kami sangat senang dengan tepukan dan teriakan kalian, perjuangan kami selama enam bulan berjalan dengan lancar dan sukses sampai pertunjukan tiba, kami mempersembahkan pertunjukan ini kepada kalian semua, terutama untuk kakekku Kakek Suwiryo, dulu kakek pernah bercerita bahwa kakek ingin meneruskan budaya kita pada penerus bangsa dimasa depan, tetapi kakek tidak bisa mewujudkan keinginan itu, karena kakek tidak bisa maka kami yang akan mewujudkan keinginan kakek" ucap Rian.

"Apa yang dikatakan Rian itu betul kek, kami akan mewujudkan dan mengajarkannya kepada para penerus bangsa tentang budaya asli kita" ucap Ardi, "Iya kan teman-teman?" tanya Ardi kepada teman-temannya, "Iya benar kek, yang dikatakan Rian sama Ardi" jawab teman-temannya. Mendengar ucapan mereka, Kakek Suwiryo sangat senang sekali sampai ia meneteskan air mata dan tidak bisa berkata apapun. "Kalian anak-anak yang hebat, terimakasih karena ingin mewujudkan keinginan kakek, kakek sangat senang sekali" jawab Kakek Suwiryo yang terharu dan bangga terhadap mereka.

Pertunjukan itu viral ke seluruh dunia, banyak orang yang datang ke Desa Harmoni, mereka ingin melihat pertunjukan dan ingin belajar cara memainkan suling. Melihat hal itu Kakek Suwiryo tidak percaya apa yang dia inginkan terwujud, ia meneteskan air mata kebahagiaan. Tiba-tiba Rian menghampiri Kakek Suwiryo lalu berkata "Akhirnya ya kek keinginan kakek terwujud, kami pasti akan mempertahankan dan terus menyebarkan budaya kita kepada Bangsa, Negara serta seluruh dunia" ucap Rian dengan berharap bisa meyakinkan Kakek Suwiryo.

"Terimakasih semuanya kakek bangga sekali sama kalian, para penerus Bangsa dan Negara yang hebat, yang masih mau meneruskan budaya kita di tengah zaman orang-orang yang lebih menyukai budaya asing, kalian adalah para pemuda istimewa, kakek percaya kepada kalian bahwa kalian mampu melakukannya, mampu mencapai keinginan dan cita-cita kalian" jawab Kakek Suwiryo yang percaya kepada mereka.