NEWS UPDATE :  

Karya Dede Jamilah

Karya Dede Jamilah

Halo semuanya! 👋

Dengan penuh rasa bangga, kami menyampaikan penghargaan dan ucapan selamat kepada Dede Jamilah. Atas keberhasilan meraih Juara 2 Lomba Jurnalistik.

Melalui karya tulis yang luar biasa, Dede telah berhasil menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya, mengangkat kisah wayang menjadi informasi yang menarik dan bermakna. Semoga prestasi ini semakin menginspirasi banyak orang untuk terus melestarikan budaya bangsa.

Teruslah berkarya! 📰🎭✨

 

Bayang-Bayang Di Bungursari: Nafas Wayang Dalam Raga Pemuda Modern

Pada malam hari yang sunyi, terdengar suara riuh persiapan acara yang akan dimulai. Suasananya dingin, dengan hembusan angin malam yang terasa menusuk tulang. Tapi itu tidak mengurangi rasa semangat seorang pemuda yang saat ini tengah duduk bersila, seolah-olah menantikan di mana dirinya akan menjadi pemeran utama malam ini. Lagi dan lagi ia kembali memeriksa setiap sendi-sendi pada wayangnya, seolah berbicara dari lubuk hati bahwa inilah jati dirinya. Saat alunan gamelan mulai dimainkan, dengan piawainya yang begitu lihai ia memainkan boneka mati itu sampai terlihat hidup, seperti memiliki jiwa. Sorak-sorai para penonton pun menggema di sekeliling panggung sederhana itu, membuat ia tersenyum tipis, namun cerah.

Dari panggung sederhana itu, perlahan terungkap bahwa yang digerakkan bukan sekadar boneka kayu, melainkan hidup seorang pemuda yang tumbuh bersama bayang-bayang wayang. Sejak kecil, ia tak hanya menyaksikan, tetapi menyerap nilai-nilai yang mengalir di dalamnya tentang kesetiaan, keberanian, dan tanggung jawab. Di balik alunan gamelan yang terus mengiringi langkahnya, tersimpan perjalanan panjang yang membentuk cara pandangnya terhadap hidup. Di saat banyak yang melangkah menuju gemerlap modernitas, ia justru memilih bertahan, menekuni dunia yang bagi sebagian orang mulai terasa jauh. Baginya, wayang bukan sekadar warisan budaya, melainkan ruang belajar yang diam yang perlahan membentuk sikap, pilihan, dan arah hidupnya.

Di sebuah sudut Bungursari, Kabupaten Purwakarta, tumbuh seorang pemuda bernama Kang Reza yang sejak kecil tidak hanya menyaksikan wayang sebagai tontonan, tetapi perlahan menjadikannya sebagai bagian dari dirinya. Di depan layar televisi yang redup, untuk pertama kalinya ia melihat bayang-bayang cerita yang terasa asing, namun begitu memikat. Sejak saat itu, yang ia tangkap bukan hanya alur kisah, melainkan nilai-nilai yang diam-diam mengendap dalam pikirannya. Rasa penasaran pun tumbuh, mengusik benaknya yang masih belia. Dengan mata penuh tanya, ia mendekati sang ayah, melontarkan pertanyaan-pertanyaan lugu tentang apa itu wayang golek, tentang kisah-kisah yang hidup di dalamnya, dan tentang makna yang belum ia pahami. Dari percakapan sederhana itulah, bukan hanya pengetahuan yang ia dapatkan, tetapi juga pemahaman awal tentang hidup yang perlahan membentuk cara ia berpikir dan melihat dunia.

Dari ketertarikan yang sederhana itulah, rasa cinta terhadap seni wayang golek tumbuh semakin dalam di hati Kang Reza. Di saat anak-anak seusianya larut dalam permainan, ia justru memilih duduk lebih lama, menyelami dunia perwayangan bersama sang ayah. Setiap waktu yang ia habiskan bukan sekadar kebersamaan, melainkan proses diam-diam memahami makna tentang kesetiaan pada budaya, tentang menjaga warisan yang tak kasatmata. Dari langkah-langkah kecil itulah, ia mulai mengerti bahwa mencintai budaya bukan hanya soal menikmati, tetapi juga merawat dan meneruskannya dengan sepenuh hati.

Setelah cukup lama bergulat dalam dunia perdalangan, Kang Reza akhirnya tiba pada satu persinggahan hidup yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya. Sebuah titik sunyi yang memaksanya berdamai dengan kenyataan paling getir, kepergian sang ayah.

Sejak duduk di bangku kelas empat sekolah dasar, ia sudah belajar arti kehilangan. Sosok yang selama ini menjadi penuntun langkahnya perlahan berpulang, meninggalkan ruang kosong yang tak mudah terisi. Ayahnya bukan hanya orang tua, tetapi juga guru pertama yang memperkenalkannya pada dunia wayang, dunia yang kini ia pilih sebagai jalan hidupnya.

"Dulu, Ayah yang selalu menggenggam tangan saya mengajarkan bagaimana cara menggerakkan tokoh Yudistira," ucap Kang Reza pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara hening yang panjang. Matanya tak lepas dari wayang yang mulai menguning, seolah di dalamnya tersimpan sisa-sisa waktu yang enggan benar-benar hilang.

Kini, ia melanjutkan perjalanan itu seorang diri. Tanpa tangan yang dulu membimbingnya, tanpa lagi suara yang mengoreksi gerak jemarinya di balik kelir. Namun, di tengah sepi yang menggantung, ia memilih untuk tidak menyerah.

"Ayah saya pernah berkata, wayang itu bukan sekadar boneka, melainkan cerminan kehidupan," lanjutnya lirih, seakan kalimat itu masih terus hidup dan berulang di kepalanya hingga hari ini.

Dan sejak saat itu, Kang Reza memahami satu hal bahwa hidup, seperti wayang yang ia mainkan, selalu bergerak dalam lakon yang tak selalu ia pilih, tetapi tetap harus ia jalani dengan penuh makna.

"Ayah pernah bilang, kalau dalang itu adalah sutradara kehidupan. Jika saya berhenti, maka cerita itu akan benar-benar selesai."

Sejak kalimat itu tertanam dalam ingatannya, Kang Reza kembali menapaki jalan yang pernah ia tinggalkan. Ia kembali belajar wayang, namun kali ini berbeda. Tak ada lagi sosok yang dulu setia menuntunnya di samping, tak ada lagi suara yang sabar membenarkan gerak jemarinya di balik kelir. Ia berjalan sendiri, di antara sunyi yang perlahan berubah menjadi guru yang tak pernah ia pilih.

Di titik ini, wayang bukan lagi sekadar sesuatu yang ia pelajari, tetapi menjadi cara hidup yang perlahan membentuk dirinya, membentuk cara ia bertahan, cara ia memaknai kehilangan, dan cara ia tetap melangkah meski sendirian.

Namun perjalanan itu tidak hanya diuji oleh sepi yang ditinggalkan ayahnya. Justru yang lebih tajam, lebih berat, datang dari sekelilingnya. Pandangan orang-orang yang meremehkan langkah kecilnya.

"Hih, anak kecil bisa apa? Paling cuma main-main..." Ucapan itu seperti udara dingin yang menyusup di antara keyakinannya. Tatapan sinis para tetangga menjadi semacam bayangan yang terus mengikuti setiap kali ia memilih untuk tetap menggenggam wayang di tangannya.

Dan di tengah tekanan itu, Kang Reza pelan-pelan memahami satu hal bahwa dirinya bukan hanya sedang mempelajari wayang, tetapi sedang dibentuk olehnya menjadi manusia yang ditempa oleh sunyi, kehilangan, dan keyakinan yang ia jaga sendiri ketika dunia di sekitarnya belum tentu percaya pada cerita yang sedang ia bangun.

Cibiran itu sempat membuat Kang Reza hampir menyerah. Di satu waktu, ia bahkan sempat merasa bahwa wayang bukan lagi warisan, melainkan beban yang terlalu berat untuk ia pikul seorang diri. Namun, di antara rapuhnya keyakinan itu, rasa cintanya pada seni perlahan tumbuh lebih kuat daripada rasa ragu yang mencoba menguasai dirinya.

Ia memilih bertahan. Bahkan mengubah setiap ejekan, setiap pandangan meremehkan, menjadi dorongan yang diam-diam menguatkan langkahnya. Alih-alih runtuh, ia justru menjadikannya bahan bakar untuk terus bergerak, untuk terus belajar, untuk terus membuktikan bahwa ia tidak sedang bermain-main dengan mimpinya.

Karena bagi Kang Reza, seni bukan sekadar pilihan, bukan pula pelarian. Ia adalah bagian dari dirinya, sesuatu yang tidak bisa dilepaskan, sebagaimana napas yang ada dalam raganya.

Menjaga seni tradisi di tengah derasnya arus digital bukanlah perkara mudah. Ia menuntut keteguhan, kesabaran, dan keberanian untuk tetap berdiri ketika banyak hal di sekitarnya mulai berubah arah. Dan di jalan yang tidak selalu ramah itu, Kang Reza telah melewati masa-masa paling rapuh dalam hidupnya. Ia belajar berdiri di atas kakinya sendiri, meski bayang-bayang ayahnya tak pernah benar-benar pergi, tetap hadir, diam-diam menguatkan setiap langkah yang ia ambil.

Bagi Kang Reza, wayang bukan sekadar warisan yang harus dijaga, melainkan bagian dari dirinya yang tumbuh dan hidup bersama waktu. Dari situlah ia mengerti, bahwa seni tidak akan pernah bertahan dengan sendirinya. Ia hidup karena ada yang memilih untuk tetap memeluknya. Ia bertahan karena ada yang bersedia menjaganya, dan di antara banyak orang yang mungkin mulai menjauh, Kang Reza memilih untuk tetap tinggal. Menjadi salah satu jiwa yang dengan setia merawat cerita, agar ia tidak berhenti di tengah jalan.